Schrödinger's cat


 



Kucing Schrödinger adalah eksperimen pikiran yang dirancang oleh fisikawan Austria, Erwin Schrödinger, yang ia rancang untuk menggambarkan paradoks superposisi posisi di mana seekor kucing hipotetis dapat dianggap hidup dan mati secara bersamaan karena nasibnya terkait dengan peristiwa acak yang mungkin (atau mungkin tidak) terjadi.

Sebelum mengetahui tentang apa itu 'Kucing Schrodinger', kita perlu berkenalan dengan dunia kuantum, sebagai permulaan.
Dunia hamparan adalah probabilitas dunia, tempat banyak kemungkinan. Sekaligus tempat berbagai paradoks terjadi.

Dunia reproduksi dipelajari dalam fisika, suatu cabang ilmu fisika yang mempelajari partikel-partikel dasar penyusun alam semesta. Jika kita mengira bahwa atom adalah bagian terkecil dari suatu unsur yang tidak bisa dipecah lagi, dunia rotasi ada dalam skala yang lebih kecil dari ukuran atom. Partikel-partikel dalam dunia rotasi selalu berperilaku tidak lazim. Itulah sebabnya, dalam dunia kuantum, hukum fisika klasik, semacam hukum Newton atau sejenisnya, tidak bisa berlaku. Hukum fisika hanya bisa dijabarkan dalam bentuk persamaan matematika tingkat lanjut.

Erwin Schrodinger dan 'Kucing'-nya.
Salah satu misteri terbesar di dunia manipulasi adalah eksperimen imajiner atau khayalan yang dilakukan Erwin Schrodinger (1887-1961), fisikawan Austria sekaligus Bapak Fisika Kuantum, yaitu 'kucing Schrodinger' yang dicetuskan pada tahun 1935. Eksprimen tersebut tidak menggunakan kucing asli. Entah bagaimana kucing menjadi 'alat'-nya, namun yang pasti, eksperimen ini hanya diungkapkan secara teoritis. Schrodinger mengisahkan mengenai seekor kucing yang diletakkan di sebuah kotak tertutup bersama sebuah botol berisi racun sianida. Jika ada aktivitas peluruhan radioaktif, racun tersebut akan jatuh dan membunuh si kucing. Aktivitas radioaktif tersebut diatur oleh hukum fisika yang hanya berisi kemungkinan--antara meluruh dan tidak meluruh--atau disebut dengan kondisi ”superposisi”. Otomatis, kucing di dalam kotak itu juga dalam kondisi superposisi, yakni mengalami keadaan hidup dan mati dalam waktu bersamaan. Satu-satunya jalan untuk memastikan bahwa kucing tersebut hidup atau mati adalah dengan membuka kotaknya.

Masalahnya, kondisi superposisi ini sangat sensitif terhadap lingkungan luar sehingga setiap usaha mengamati atau mengukur dengan pasti kondisi kucing tersebut akan merusak keadaan hamparannya. Gambaran mudahnya, jika ada pohon tumbang di sebuah hutan atau ada spesies baru yang lahir hari ini, pohon tersebut tidak bisa dikatakan tumbang dan spesies baru itu bisa dikatakan ada, sampai pengamatan terjadi (ada manusia yang melihatnya). Jadi, memang di dunia nyata tidak ada kucing yang 'setengah hidup-setengah mati', namun selama kotak tidak terbuka (tidak ada yang mengamati), persentase hidup dan mati si kucing adalah 50 persen alias sama besar (hidup dan mati secara bersamaan). Inilah paradoks Kucing Schrodinger yang menjadi masalah terbesar di dunia.

Komentar